Butiran Rindu
Teruntuk mu di keabadian
Tak tau aku harus mengucap apa
Tak tau apakah doa ku sampai pada mu
Raga mu tak bersama ku lagi
Namun jiwa mu seperti mengikuti
Entah mengapa rindu
Rindu dalam pelukan mu
Melihat wajah mu yang berubah
Rambut mu yang memutih
Embun tak datang pagi ini
Namun kesejukan masih terasa
Walau hembusan angin tak sesegar dulu
Teringat ku
Saat kau bangunkan ku dari peraduan
Saat kau mengajak ku berdiri dekat api
Tempat kita menanak nasi
Rasa dinding diganti hangat membara
Bagai hangatnya semangat mu
Memulai hari hari.
Salam Jabat Tangan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar