Rabu, 19 September 2018

          Lembayung di Khatulistiwa

Sabar Sayang..
Saat ini kita harus jauh terpisah jarak
Aku harus memulai saat ini
Untuk masa depan yang katanya berharga
Dan kita juga mengiyakan
Bila saatnya nanti aku telah selesai
Tangan kita akan menggenggam
Takkan ku biarkan lepas lagi, Sayang

Bersabarlah sayang
Aku juga ingin cepat kembali
Namun waktu tak bisa dipercepat
24 jam sudah menjadi milik setiap orang

Nanti bila tiba saatnya
Aku takkan jauh lagi dari mu
Tak lagi sebatas hati dan hayalan
Tapi dekat tak ada batas

Bersabarlah dulu sayang
Banyak hal kita lalu
Dari musim dingin silih berganti
Musim panas datang pergi

Ku tak bisa melepas tatapan mu
Semangat membara oleh senyum mu
Yang terbayang dalam benak

Bersabarlah sayang
Aku tak bisa berbuat saat kau butuh
Doa untuk mu
Terbang bersama angin
Daun gugur mengikuti
Menghantarkan kepada yang kuasa

Kau akan tertawa melihat ku menangis
Tertawa kepada lautan
Berharap mengalahkan gemuruh ombak
Untuk menutupi sedih mu
Kau sungguh pintar menghibur, Sayang

Bersabarlah sayang
Kabar ku baik baik saja
Aku harap kamu juga
Setiap saat ku memikirkan mu
Dan ku sebut kau dalam doa

Sudah banyak cerita
Sudah banyak kisah
Saat kita di kejauhan

Bersabarlah sayang
Di drama yang ditinggal begitu sedih
Namun saat ini
Yang pergi juga sedih
Tapi aku takkan larut
Seperti kata mu

Bersabarlah sayang
Bunga edelweis mu, masihkah abadi
Bagaimana dengan senyum manis mu
Masihkah lebar seperti dulu

Setiap hari berharap melihat matahari terbit
Di sini begitu indah
Ku buka pintu matahari menyapa ku
Namun terkadang kabut menutupi
Sama seperti kita sayang
Berharap dapat kabar
Namun hanya menunggu
Dan menyibukkan diri

Banyak bayangan wanita
Hadir menghantui ku
Membuat ragu akan mu
Ingat ku menghabiskan waktu dengan mereka
Yang tampak begitu indah
Tapi hati kecilku masih inginkan mu
Senyum mu membantah semua itu
Senyum mu merangkul diri ku

Bersabarlah sayang
Tuhan punya rencana
Dan kita yakin
Semua akan indah pada waktunya
Hingga kita disisiNya.


Lintas khatulistiwa

         ttd wm

Rabu, 12 September 2018

    Masih terngiang jelas saat saat kami terjatuh tadi, aku melihat luka di lengan ku, sesekali ku lihat sepeda motor yang bagian depan nya pecah.
Setelah kami terjatuh, aku kembali membawa sepeda motor sebab ku lihat teman ku masih syok, ku coba menenangkannya, di buka jaketnya lalu di lempar ke arah semak belukar, hujan masih turun, kendaran kami kembali meluncur dengan pelan, hingga di sebuah warung pinggir jalan, tersendiri di tengah hutan, warung dan sekalian tempat tinggal seperti ini banyak dan biasanya para pendatang walau banyak namun jarak warung yang satu dengan yang lain sangat berjauhan jadi jangan bayangkan ada keramaian di sepanjang jalan ini, ku parkirkan sepeda motor kami, air mineral menjadi pilihan untuk membasu luka. Hujan masih turun giro sudah kembali ke sesediakalah perjalanan di lanjutkan, jalanan masih meliukliuk di pinggiran jalan antara jurang curam berhutan lebat yang tampak mulai gundul terlihat dari selah selah pohon bekas galian tambang yang bagai danau buatan, terbayang oleh ku di masa kanak kanak, tinggal di pelosok jauh dari kebisingan kota, seakan akan ku lihat diri ku bermandi mandi dengan kawan kawan seusia ku, namun kami mandi bukan di galian tambang, hanya galian untuk menyerap air hujan dan biasanya di buat di sisi jalan yang sering terkena genagan air di jalanan kebun sawit, ukurannya berpariasi ada yang memanjang mengikuti jalan, ada yang seukuran 4x3 meter dengan kedalaman 2 sampai 3 meter. di kubangan pait itu lah kami mandi mandi, bukan main kotornya, tapi kami bahagia bagai mandi di kolam renang, rata rata kami belajar berenang di kubangan parit ini. Hujan masih turun kini jalan sudah mendatar, aku tersadar dari lamunan ku tak kalah giro memutar arah.
Kenapa kita putar balik lae ? Tanya ku.
Itu sibapak kenapa dengan keretanya di dorong, kasian juga hujan hujan gini, apa lagi masih jauh bengkel sautnya,
Seraya bertanya dengan bapak penyorong kereta, tanpa basa basi, bisa tipe orang batak tak perlu basa basi langsung sergap aja,
Kenapa dengan sepeda motornya pak ?
Ini loh nak, habis bensin.
Ya sudah pak, naik aja biar saya dorong dengan kaki saya,
Sudah cukup jauh kami menyorong si bapak dengan sepeda motornya, akhirnya menyerah juga kawan ku ini, kami pun pamit duluan, entah apa yang dipikirkan teman ku ini, di pacuhnya sepeda motor kami di jalan yang sisi kiri kanan sudah tak ada lagi pohon tinggi bagai rawa rawa tak bertuan, pembatas jalan seperti kejar kerjaan dengan kecepatan sepeda motor kami, sampai aku merasa takut juga, jangan sampai jatuh yang kedua kali, akhirnya aku sedikit legah pinggiran kota sanggatta telah terlihat dari pancaran remang lampu di kejauhan, saat mendekati penjual minyak bensin eceran teman ku mendadak berhenti, turun dan ku lihat dia mengeluarkan uang dan kembali lagi dengan sebotol bensin kira kira satu liter, dan ini umum di jumpain di daerah pinggiran kota hingga desa desa,maklum SPBU jauh, kalaupun ada di tingkat kabupaten.  Botol bensin diserakan pada ku, kami putar balik untuk yang kedua kalinya.
   Dari jauh kami lihat bapak itu masih berjalan menggiring sepeda motornya ditengah hujan yang belum redah, kami berikan sebotol bensin yang kami bawa, segera dituangkan ke tengki sepeda motornya, dalam deras hujan ku lihat raut legah bapak itu, dalam letih dan kedingina dia mengucap terima kasih dengan tulus dan senyum ikhlasnya, suara sepeda motor bebeknya meraung raung menghalau hujan serta merta mengucapkan terima kasih dengan maha dasyatnya, kami pun berlalu, entah di keramaian mana kami berpisah dengan pak tua itu,  tujuan pertama kami ke apotik terdekat dan ku tersadar luka ku mulai peri tidak hanya di tangan tapi di beberapa bagain tubuh ku, sepertinya giro juga merasakan hal yang sama, kami hanya terhenyak dan tertawa mengingat saat saat tubuh kami berbentur dengan jalan. pulau borneo kota kenangan sesaat namun indah. kota sanggata telah di selimut gelap malam dan dingin hujan.
Tawa kami terselip di selah selah keduanya.