Selasa, 21 Agustus 2018

Riak riak titik hujan,
Membentuk irama gelombang
Di danau tak bertuan
Membawa kesejukan
Dalam bening, di setiap tetesnya
Indah, indah dalam pelupuk mata
Hujan membasai tanah borneo di mana jalan menuju kotanya sudah beraspal yang kadang kadang berlubang, apa karna pembangunan yang buruk, atau akutan yang berlebihan atau mungkin juga karna pengerukan tambang di kiri kanan jalan, sepajang jalan terhampar danau tak bertuan yang di tinggal penambang, ada juga yang masih beroperasi, kadang kadang ada rumah penduduk menyendiri sekaligus berkebun di belakang rumah yang agak bergelombang tanahnya.
Di kejahuan tampak juga jejeran pohon kelapa sawit yang tersusun rapi.
Hujan semakin deras aku yang sedari tadi membawa kendaran roda 2, terpaksa mengganti diri dengan teman ku yang berbadan lebih atletis, mata agak sipit, kulit putih, persis seperti anggota Tentara yang baru pulang dari pendidikan, biasa kami panggil dia giro.
Kaca mataku sudah buram, dibasahin titik titik hujan, segera ku usap dengan baju bagian belakang yang sedikit agak kering, ransel yang tadi di pundak giro berpindah kepada ku.
Dia memacu kendarannya lebih kencang dari dugaan ku, dengan kondisi hujan dan kadang kadang jalan berlubang membentuk kolam lumpur dadakan membuatku sedikit kawatir.
Segera ku peringatkan dia, ku tau baru ini pertama sekali dia ke kota sanggata mengendarai sepeda motor, semenjak penempatan di kebun sawit dekat kota bengalon. di luar dugaan peringatan ku tak di gurbisnya, mungkin karna darah batak mengalir dalam tubuhnya sedikit gengsi kalau takluk dengan hujan dan liukan jalan menuju kota, haahahah.
Tenaga saja lae, di tempat aku, hari hari ku lalui jalanan seperti ini.
Karena postur tubuh dan jawab yang diberikan meyakinkan aku pasrah saja.
Meliku liuk di jalan aspal yang sisi kiri dan kanannya jurang, seakan akan berirama dengan derasnya hujan yang menerjang kami. Selang beberapa saat ditikungan ganda kami terkejut oleh genangan air warnanya sudah coklat, pertanda aspal berlubang, sontak rem mendadak terjadi, sepeda motor kami oleng namun masih bisa di seimbangkan tapi karna harus menikung lagi alhasil kami pun terjatuh, sempat ku lihat teman ku terseret bersama sepeda motor, aku langsung bangkit dan menahannya, yang di luar dugaan ku dia langsung duduk diam di tengah jalan entah apa yang di pikirkan, cukup lama dia terdiam, di ajak bicara juga tak ada jawaban, aku sempat kawatir, karna tak ada jawaban aku memindahkan sepeda motor kami yang terpelanting beberapa meter ke arah semak belukar.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar